Artikel Islami

Islam Mancanegara :

Farah Pandith: AS adalah Sahabat Umat Islam

NEW DELHI–Farah Pandith, wakil khusus AS bagi dunia Islam, Rabu (17/2), waktu setempat, mengatakan bahwa negaranya menginginkan “hubungan jangka panjang” dengan umat Islam, didasarkan pada “kepentingan bersama dan saling menghormati.”

Terkait undangan pertemuan besar Muslim di Pusat Kebudayaan Islam India, di Delhi, Pandith mengatakan, Amerika ingin berinvestasi dalam membangun hubungan dengan pemuda Muslim dan membangun kontak langsung. “Sekretaris (Hillary) Clinton telah meminta saya untuk bekerja dengan komunitas Muslim di seluruh dunia sebanyak yang kita bisa,” katanya pada hari kedua dari empat hari kunjungan resmi pertamanya ke India yang juga akan membawanya ke Mumbai.

“Kami ingin membangun hubungan jangka panjang dan melibatkan para pemuda Muslim dalam sebuah dialog yang didasarkan pada kepentingan bersama dan saling menghormati,” kata Pandith. Ia mengatakan, Pemerintahan Presiden Barack Obama berharap dapat menjangkau akar rumput massa Muslim di negara-negara di seluruh dunia “baik sebagai mayoritas maupun minoritas”.

Menurut Pandith, Muslim membentuk seperempat dari penduduk dunia dan AS ingin menegosiasikan hubungan masa depan dengan pemuda Muslim. “Saya berfokus pada generasi muda di dunia Muslim dan kita melibatkan mereka dalam dialog dan diskusi untuk membangun kepercayaan dan menghilangkan kesalahpahaman,” katanya.

Pandith merupakan pengemban visi Obama “untuk membangun kemitraan dengan masyarakat Muslim di seluruh dunia”. Pandith adalah seorang Muslim Amerika yang lahir di Jammu India dan Kashmir. Orangtuanya berimigrasi ke Amerika Serikat pada tahun 1969. Ia menjadi nominasi sebagai utusan Muslim pada 23 Juni 2009, oleh Menteri Luar Negeri Hillary Clinton, dan dilantik 15 September tahun yang sama.

red : taqi

sumber : ebz

sumber unduh : http://www.republika.co.id

Seorang Imam di Ottawa Mengharamkan Kartu Kredit

OTTAWA–Imam Khaled Abdul Hamid Syed telah mengeluarkan sebuah fatwa yang melarang umat Islam menggunkan fasilitas kartu kredit, meskipun mereka melunasinya setiap bulan. “Saya menyimpulkan bahwa hal itu mengandung riba, yang dilarang dalam Islam, sehingga tidak boleh digunakan,” kata Syed lewat e-mail yang dikirim ke seluruh anggota masjid utama kota.

Islam, seperti juga agama lain, selalu melarang riba karena itu merugikan debitur, bahkan dapat merusak seluruh tatanan ekonomi dunia, seperti yang ditunjukan oleh fenomena ekonomi akhir-akhir ini. “Ini untuk melindungi orang agar tidak jatuh pada utang yang memberatkan,” kata imam dalam sebuah wawancara, Rabu (17/2), waktu setempat.

“Bunga itu merendahkan orang,” kata Ismail Barreh, seorang mahasiswa MBA di Universitas Ottawa. “Mereka (para pengutang, red) membutuhkan, dan kemudian Anda dapat mengambil keuntungan dari mereka.”

Ada dua pendapat terkait dengan hukum kartu kredit di kalangan ulama Islam. Kelompok pertama berpendapat bahwa kartu kredit diperbolehkan selama tidak ada bunga yang ditimbulkan. Ini berarti tagihan harus selalu dibayar lunas.

Kelompok kedua melarang kartu kredit merujuk pada pendapat Ibnu Mass’ood yang meriwayatkan satu hadis Nabi SAW: “Allah melaknati orang yang mengonsumsi riba (bunga), yang memberikannya kepada orang lain, yang mencatatnya, dan yang menjadi saksinya …. Semua orang itu adalah sama dalam dosa.”

Menurut kelompok ini, siapa pun yang menandatangani kontrak untuk kartu berarati “siap dan setuju untuk membayar bunga, dengan demikian ia menyetujui transaksi riba.”

Dalam sebuah wawancara, Imam Khaled menekankan bahwa fatwa bukanlah suatu yang mengikat, dan tidak setiap imam memegang pendapat yang sama. “Sebuah fatwa adalah keputusan dari ijtihad agama, untuk memberitahu orang-orang apa yang membuat Allah mencintai mereka dan apa yang membuat Allah marah dengan mereka…. Ini adalah keputusan agama kepada orang yang bertanya.”

“Kami memiliki kebangsaan yang berbeda, pendapat yang berbeda, budaya yang berbeda di sini (di Ottawa). Ini adalah masalah di sini,” tambah Khaled. Jadi, Meski Islam memiliki prinsip umum yang melarang bunga, setiap situasi akan membutuhkan keputusan yang sedikit berbeda. Sebagai contoh, seorang yang harus membeli bahan makanan dan kebutuhan lainnya sehari-hari sambil menunggu paycheque bulanannya. Bagi dia, kartu kredit diperbolehkan.

Fatwa tentang kartu kredit itu merupakan jawaban atas pertanyaan seorang wanita muda dari Ottawa yang mendengar di siaran televisi Arab Saudi bahwa kartu kredit apa pun dilarang, bahkan sekalipun tidak ada bunga yang timbul. Ia kemudian menulis pertanyaan terkait hal itu kepada Imam Khaled sebagai klarifikasi, “Apakah Anda mengajurkan saya untuk meninggalkan kartu kredit saya? Saya hanya punya satu untuk keadaan darurat dan saat melakukan perjalanan. Bisakah Anda memberi saya saran. Apakah saya harus menutupnya dan bergantung pada Allah?”

Khaled menjawab bahwa penanya harus mengandalkan pada kartu prabayar yang dapat diisi dengan jumlah yang ditetapkan. Pemegang kartu hanya dapat membelanjakan apa yang ada di kartu, dan tidak ada bunga yang ditimbulkan.

red : taqi

sumber : Tvs

sumber unduh : http://www.republika.co.id

NASA Arahkan Jangkauan ke Dunia Islam

WASHINGTON-—Arah baru pengembangan wilayah kerja lembaga antariksa Amerika Serikat (AS), NASA, dicanangkan Presiden Barack Obama. Pejabat NASA, Charlie Bolden, mengungkapkan bahwa Obama telah memintanya untuk mencari jalan agar bisa menjangkau negara-negara yang berpenduduk mayoritas Muslim. Kata dia, lewat langkah tersebut, AS ingin menjadikan program antariksanya sebagai bagian dari diplomasi.

Kebanyakan negara mitra AS, kata dia, sudah banyak tahu tentang kegiatan di stasiun luar angkasa. “Kini tinggal kami mencari partner non-tradisional,” ujar dia seperti ditulis situs harian Oralndo Sentinel edisi 16 Februari. Partner non-tradisional yang dijadikan prioritas adalah negara-negara yang belum memiliki program luar angkasa.

Terhadap negara-negara itu, menurut dia, NASA siap membantu untuk memberikan arahan dan mengikutkannya dalam misi ilmiah. Dalam kesempatan itu dia pun menyatakan tertarik untuk membantu Indonesia dalam urusan antariksa, juga termasuk program pendidikan yang terkait dengan isu perubahan iklim global.

“Kami benar-benar senang dengan Indonesia, sebab kini Departemen Pendidikan dan beberapa lembaga lain telah menjangkau Indonesia sebagai negara berpenduduk Muslim terbanyak di dunia,” ungkap Bolden. Dia pun berjanji untuk segera mendapatkan partner di Indonesia.

red : Irf

sumber : orlando sentinel

sumber unduh : http://www.republika.co.id

Islam nasional :

DDII Minta UU Penodaan Agama tetap Ada

JAKARTA–Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) meminta kepada Mahkamah Konstitusi (MK) agar  tetap mempertahankan UU No 1 tahun 1965 tentang Penyalahgunaan dan atau Penodaan Agama. Harapan itu disampaikan dalam sidang pleno uji materi UU tersebut di MK, Rabu (17/2).

Ketua Umum DDII, Syuhada Bahri, yang mewakili pihak terkait memaparkan, bahwa UU No 1 tahun 1965 tidak bertentangan dengan Undang-undang Dasar 1945. “UU No 1 tahun 1965 sejalan dengan UUD 1945 untuk menciptakan hidup yang damai, toleransi antaragama, dan saling menghargai,” kata dia.

Syuhada menambahkan tidak pemeluk agama yang rela jika agamanya dinodai.”Bagi kami agama Islam adalah agama yang baik,” tutur dia.

DDI tidak akan membiarkan jika ada orang yang memeluk Islam tetapi mengakui dirinya Tuhan selain Allah swt. DDII juga tidak akan membiarkan jika ada orang yang meragukan Alquran.

”Apa kita akan membiarkan hal itu atas nama kebebesan,” kilah Syuhada. Ia pun mengatakan,  bahwa DDI tidak ingin Indonesia menjadi arena tinju tanpa wasit.

Sejak Orde Lama dan Orde Baru, UU No 1 tahu 1965 sudah mendukung keberagaman beragama. Pada  Orde Reformasi juga mendukung penuh tapi tetap menjunjung kebebasan yang tidak berdasarkan syahwat hedonistik.

red : arif

sumber : Prima Lutfi Ludfian

sumber unduh : http://www.republika.co.id

Gerilya Atheisme Tunggangi HAM dan Demokrasi

JAKARTA–Presiden World Conference on Religions for Peace (WCRP), KH Hasyim Muzadi, mengimbau agar umat beragama di Indonesia mencermati serta mewaspadai gerilya ideologi dan politik yang dilancarkan paham atheisme. Gerakan ini, kata dia, bergerak seperti tahun 1965 dengan menunggangi suasana revolusi.

Dengan mengendarai demokrasi dan HAM yang ‘over dosis’, menurut dia, bekalagan, gerakan ini mengganggu kerukunan umat beragama. Mereka menunggunakan jargon penodaan agama yang digambarkan sebagai kebebasan beragama. “Padahal tujuannya adalah kebebasan untuk tidak beragama.” kata kiai Hasyim yang juga Ketua Umum PBNU di Jakarta, Selasa (16/2) .

Masing-masing umat beragama, menurut kiai Hasyim, semestinya kembali menekuni nilai luhur agama yang dianutnya dalam spirit substansial yang dirangkai dalam toleransi kebhinekaan ke-Indonesiaan. Dia menilai dicabutnya UU No 1/65 berpotensi merusak kerukunan umat beragama yang dengan susah payah sudah berkembang di Indonesia. Kata dia, tidak akan ada pihak yang diuntungkan oleh pencabutan UU tersebut kecuali atheisme.

Pluralisme, menurut dia, haruslah dipahami sebagai pluralisme sosiologis, dan sama sekali bukan pluralisme theologis. “Karena polyreligi (berkeyakinan banyak), pada hakikatnya adalah tidak beragama,” imbuh dia. Tidak bolehnya campur tangan negara terhadap agama maksudnya, kata dia, adalah campur tangan terhadap ajaran kognitif suatu agama. Sedangkan penjagaan keselamatan umat beragama yang ex oficio adalah warga negara merupakan kewajiban asasi negara  dan sama sekali bukan intervensi.

red : Irf

sumber : Osa

sumber unduh : http://www.republika.co.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s